Selama Masih Ada "Hari Ini"

Pernahkah kita merasa percuma saja kita menasihati anak atau keponakan, agar mereka melakukan kebaikan, karena semuanya seperti berlalu bagaikan angin?

 

---

 

Mari kita belajar dari kisah bu Debby dan Rina, anak perempuannya.

Bu Debby selalu mendorong Rina agar hadir apabila ada tetangga atau teman sejemaat yang mengadakan kebaktian, hajatan, apalagi bila itu ibadah kedukaan.

 

Tetapi Rina, tidak tertarik untuk hal-hal seperti itu.

Ia selalu menemukan alasan untuk tidak pergi,

sedang sibuk apa, atau lelah sepulang bekerja.

Namun, bu Debby tidak bosan-bosan mengajak Rina ikut, walau selalu ditolak.

 

Sampai suatu hari, Rina sakit.

Para tetangga dan jemaat datang menengok, baik di rumah sakit, maupun ketika ia sudah dibawa pulang ke rumah.

 

Padahal Rina tidak mengenal kebanyakan dari mereka.

 

Hal itu menimbulkan pertanyaan di hati Rina.

Mengapa mereka rela mengangkat badan mereka yang lelah,

dan meluangkan waktu mereka untuk datang menengoknya

walau Rina tidak pernah melakukan itu terhadap mereka?

 

Hal itu membuat Rina terharu, sekaligus malu.

 

Dan sekaligus juga tersadar, bahwa mereka melakukan itu

bukan semata-mata karena dirinya, melainkan lebih karena ibunya.

 

Mereka datang membesuk Rina, karena memandang kebaikan ibunya.

 

Sejak itu, Rina berjanji akan mengikuti nasihat ibunya.

  

Sobat jelita,

Jadi, sampai kapankah kita mengajarkan tentang kebaikan, dan saling menasihati?

 

Firman Tuhan berkata, “Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”,….”

(Ibrani 3:13)

 

 

Firman Tuhan ini mengingatkan kita, bahwa kita hendaknya melakukannya selama masih ada yang namanya “hari ini”.

 

Hanya saja, yang seringkali orang lupakan adalah makna kata "saling-menasihati" di sini.

 

Saling menasihati artinya ini hanya dilakukan di dalam lingkungan di mana ada hubungan yang khusus dan dilakukan secara personal.

 

Hubungan khusus itu antara ibu dan anak, atau antara suami dan istri, atau antara saudara, antara saudara seiman, atau sahabat.

 

Jadi jangan kita ujug-ujug menasihati orang di jalan yang tidak kita kenal, atau kita komen di postingan orang-orang di sosial media dan menasihati secara publik.

 

Kenapa? Walaupun niat kita baik, tetapi belum tentu diterima baik oleh orang lain. Dan justru kemungkinan besar akan membuat orang marah, sehingga itu justru malah merusak makna nasihat yang baik itu.

 

Jadi, sobat jelita

 

Kita tidak tahu kapan nasihat akan membuahkan hasil.

 

Namun, selama masih ada yang namanya “hari ini” nasihatilah seorang akan yang lain, saling mengingatkanlah untuk berbuat kebaikan.

 

 

 

Marilah kita berdoa:

 

Bapa di Surga, terima kasih Engkau masih memberi kami kesempatan hari ini untuk menjadikan kehidupan kami sebagai saksi akan kebaikan dan kasih-Mu. Amin.  

 


Semoga kita tetap tekun menunjukkan kebaikan Tuhan hari ini.