MAWARKU MATI

Pernah, saya mendapat hadiah tanaman mawar dalam sebuah pot mungil. Saya menaruhnya di jendela kamar. Setiap pagi saya bangun dengan sebuah harapan. Saya memeriksa mawar itu, menyiramnya hati-hati, dan menyapa kuncup-kuncupnya yang mulai muncul.

Seminggu kemudian, tiga kuntum mawar merah mekar sempurna.

Tetapi sayang, hanya dalam beberapa hari, mawar itu layu. Satu-satu kelopaknya berjatuhan. Lalu dedaunannya gugur. Kemudian batangnya mengering. Hingga akhirnya, suatu pagi, saya memeriksa akarnya, dan harus menerima kenyataan bahwa mawar itu telah mati.


Waktu itu saya tinggal di asrama kampus. Lama saya dan teman sekamar saya hanya duduk termenung memandangi mawar itu.

 

Betapa indahnya perasaan kami setiap kali kami bangun selama mawar itu mekar. Tetapi kini, ia sudah mati.

 

Kisah tentang Mawarku yang mati ini mengingatkan saya akan cerita tentang nabi Yunus dalam Kitab Yunus 4:6-11.

 

Jadi ceritanya, nabi Yunus dipanggil Tuhan dan diutus untuk pergi memberitahu bangsa Niniwe bahwa Tuhan marah dan akan menghukum mereka, oleh karena dosa-dosa mereka.

 

Sebenarnya awalnya Yunus tidak bersedia. Dia lalu melarikan diri.

Tetapi dengan cara Tuhan yang ajaib, akhirnya Yunus tak bisa lagi lari, dan dia pun taat.

Dia pergi ke Niniwe dan memberitakan Firman Tuhan itu.

 

Akan tetapi setelah mendengar Firman Tuhan itu, bangsa Niniwe bertobat,

apa yang terjadi?

Tuhan membatalkan penghukumannya itu.

 

Itu kabar yang menggembirakan, bagi bangsa Niniwe, tapi tidak bagi Yunus.

Yunus justru malah kesal.

 

Dia ngambek.

"Sudah capek2 pergi ke Niniwe...

Mana? Katanya mau dihukum?"

Mungkin begitu pikir Yunus.

 

Panasnya padang gurun membuat hatinya semakin panas.

 

Lalu Tuhan menumbuhkan sebatang pohon jarak untuk menaungi kepalanya dari terik matahari.

 

Yunus sedikit terhibur.

Tetapi keesokan harinya, ketika dia kepanasan lagi, pohon jarak itu ternyata sudah mati.

 

Itulah yang membuat Yunus semakin sangat kesal.

 

Dia serasa ingin ikut mati saja.

 

Maka, Tuhan berfirman kepadanya,

 

 

"Engkau saja sayang kepada pohon jarak itu, yang kau tidak punya andil apa pun untuk kehidupan dan pertumbuhannya.

Bagaimana tidak Aku sayang kepada bangsa Niniwe?" Kata Tuhan.

 

___


 

Kita ini, sebagai wanita, terkadang seperti ingin mengendalikan segala hal dalam hidup ini.

 

Seakan ketika kita memiliki mawar yang indah, misalnya mawar itu harus terus indah, tidak boleh mati.

 

Atau justru sebaliknya,

ketika kita mengharapkan orang lain mendapat ganjaran atas perbuatannya,

dan ternyata dia diampuni

justru kita yang kesal.

 

Seharusnya, menurut kita, dia dihukum. Orang seperti dia seharusnya tersiksa dan menderita.

 

Padahal bagi Tuhan sendiri, yang terpenting bagi-Nya adalah pertobatan.

Setiap orang yang bertobat, pasti diterima-Nya.


Sebab Yang Tuhan inginkan adalah setiap orang dapat hidup dan merayakan kehidupan.

 

Jikalau pun kematian datang, kematian itu datang bukan karena kekejaman-Nya, melainkan itu hanyalah bagian dari kehidupan yang Dia anugerahkan. 


Marilah kita berdoa:

 

Bapa di Surga, ajarlah kami untuk memahami bahwa bencana, kehilangan, kematian adalah bagian dari kehidupan. Amin.

 

 

Semoga Anda senanatiasa bersukacita atas kehidupan ini.